Senin, 23 Juli 2012

Belajar Sholat hal 4

Belajar Sholat hal 4

RUKU'
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam setelah selesai membaca surat dari Al-Qur-an kemudian berhenti sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir seperti ketika takbiratul ihrom (tangan diangkat sejajar bahu atau daun telinga) kemudian rukuk (merundukkan badan kedepan
dipatahkan pada pinggang, dengan
punggung dan kepala lurus sejajar
lantai). Berdasarkan beberapa hadits, salah satunya adalah:
Dari Abdullah bin Umar, ia
berkata: "Aku melihat Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam
apabila berdiri dalam sholat
mengangkat kedua tangannya
sampai setentang kedua
bahunya, hal itu dilakukan ketika
bertakbir hendak rukuk dan
ketika mengangkat kepalanya
(bangkit) dari ruku' …."
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Al-Bukhari, Muslim dan Malik)

Cara Ruku'
- Bila Rasulullah ruku' maka beliau
meletakkan telapak tangannya pada lututnya, demikian beliau juga memerintahkan kepada para
shahabatnya.
"Bahwasanya shallallahu 'alaihi
wa sallam (ketika ruku')
meletakkan kedua tangannya
pada kedua lututnya."
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Al-Bukhari dan Abu Dawud)
- Menekankan tangannya pada lututnya.
"Jika kamu ruku' maka letakkan
kedua tanganmu pada kedua
lututmu dan bentangkanlah
(luruskan) punggungmu serta
tekankan tangan untuk ruku".
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Ahmad dan Abu Dawud)
- Merenggangkan jari-jemarinya.
"Beliau merenggangkan jari-
jarinya."
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Al-Hakim).
- Merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya.
"Beliau bila ruku', meluruskan
dan membentangkan
punggungnya sehingga bila air
dituangkan di atas punggung
beliau, air tersebut tidak akan
bergerak." (Hadits di keluarkan oleh Al Imam Thabrani, 'Abdullah bin Ahmad dan ibnu Majah)
- Antara kepala dan punggung lurus, kepala tidak mendongak tidak pula menunduk tetapi tengah-tengah.
"Beliau tidak mendongakkan
kepalanya dan tidak pula
menundukkannya."(Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Bukhari).
- Thuma-ninah/Bersikap Tenang
Beliau pernah melihat orang yang ruku' dengan tidak sempurna dan sujud seperti burung mematuk, lalu berkata:
"Kalau orang ini mati dalam
keadaan seperti itu, ia mati
diluar agama Muhammad
[sholatnya seperti gagak
mematuk makanan] sebagaimana orang ruku' tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti burung lapar yang memakan satu, dua biji kurma yang tidak mengenyangkan." (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Abu Ya'la, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Adh-Dhiya' dan Ibnu Asakir)
- Memperlama Ruku'.
"Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam menjadikan ruku', berdiri setelah ruku' dan sujudnya juga duduk antara dua sujud hampir
sama lamanya." (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Yang Dibaca Ketika Ruku'
Do'a yang dibaca oleh Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ada
beberapa macam, semuanya pernah
dibaca oleh beliau jadi kadang
membaca ini kadang yang lain.
1. SUBHAANA RABBIYAL 'ADHZIM
Yang artinya: "Maha Suci Rabbku, lagi Maha Agung." 3kali atau lebih (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).
2. SUBHAANA RABBIYAL 'ADHZIMI WA BIHAMDIH.
Yang artinya: "Maha Suci Rabbku lagi Maha Agung dan segenap pujian bagi Nya." 3 kali (Al Imam
Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daroquthni dan Al-Baihaqi).
3. SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUL MALA-IKATI WAR RUUH.
Yang artinya: "Maha Suci, Maha Suci Rabb para malaikat dan ruh.
(Muslim dan Abu 'Awwanah).
4. SUBHAANAKALLAHUMMA WA
BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII
Yang artinya: "Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah ampunilah aku."
Berdasarkan hadits dari 'A-isyah,
bahwasanya dia berkata:
"Adalah Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam memperbanyak membaca Subhanakallahumma
Wa Bihamdika Allahummaghfirlii
dalam ruku'nya dan sujudnya beliau mentakwilkan Al-Qur-an".
(Al-Bukhari dan Muslim)

Yang dilarang ketika rukuk ialah membaca surat Al-Qur'an.
"Ketahuilah bahwa aku dilarang
membaca Al-Qur-an sewaktu
ruku' dan sujud…"
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam
Muslim dan Abu 'Awwanah).
Bersambung...
Belajar Sholat hal 5

Belajar Sholat hal 3

Belajar Sholat hal 3

BACAAN SURAT SETELAH AL-FATIHAH
Membaca surat Al Qur-an setelah
membaca Al Fatihah dalan sholat
hukumnya sunnah karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan tidak membacanya. Membaca surat Al-Qur-an ini dilakukan pada dua roka'at pertama. Banyak hadits yang menceritakan
perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam tentang itu.
Panjang pendeknya surat yang
dibaca, pada sholat munfarid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat-surat yang panjang kecuali dalam kondisi sakit atau sibuk, Rasulullah berkata: "Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang
bacaannya akan tetapi, tiba-tiba
aku mendengar suara tangis bayi
sehingga aku memperpendek
sholatku karena aku tahu betapa
gelisah ibunya karena tangis bayi
itu."
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari dan Muslim)

Cara membaca surat, dalam satu sholat terkadang beliau
membagi satu surat dalam dua
roka'at, kadang pula surat yang sama dibaca pada roka'at pertama dan kedua. (berdasar hadits yang
dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Ya'la, juga hadits shahih yang dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud dan Al-Baihaqi atau riwayat dari Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim,disahkan oleh Al-Hakim disetujui oleh Ad-Dzahabi)
Terkadang beliau membolehkan
membaca dua surat atau lebih dalam satu roka'at.(Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, dinyatakan oleh At-Tirmidzi sebagai hadits shahih)

Tata cara bacaan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
biasanya membaca surat dengan
jumlah ayat yang berimbang antara
roka'at pertama dengan roka'at
kedua. (berdasar hadits shahih
dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim)
Bersambung...
Belajar Sholat hal 4

Belajar Sholat hal 2

MEMBACA AMIN

Hukum Bagi Imam, Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat. Dari Abu hurairah, dia berkata:
"Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, jika selesai membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya dan membaca amin." (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah, oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah).
"Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang." (Hadits shahih dikeluarkan olehAl-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud).
Hadits tersebut mensyari'atkan para imam untuk mengeraskan bacaan amin, demikian yang menjadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafi'i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya. Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan
judul 'baab jahr al-imaan bi al-ta-
miin' (artinya: bab tentang imam
mengeraskan suara ketika membaca amin).

Hukum Bagi Makmum: adalah wajib membaca aamiin, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata: "Jika imam
membaca amiin maka
hendaklah kalian juga membaca
amiin."Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib bagi makmum. Pendapat ini dipertegas oleh Asy-Syaukani. Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam juga membacanya. Adapun bagi imam dan orang yang sholat sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar II/262). "Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi 'alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imampun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat lain: "(apabila
imam mengucapkan amiin,
hendaklah kalian mengucapkan
amiin) barangsiapa ucapan
aminnya bersamaan dengan
malaikat, (dalam riwayat lain
disebutkan: "bila seseorang
diantara kamu mengucapkan
amin dalam sholat bersamaan
dengan malaikat dilangit
mengucapkannya), dosa-
dosanya masa lalu diampuni."
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam
Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i
dan Ad-Darimi)
Syaikh Al-Albani mengomentari
masalah ini sebagai berikut:
"Aku berkata: Masalah ini harus
diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk
kesempurnaan dalam mengerjakan
masalah ini adalah dengan membarengi bacaan amin sang
imam, dan tidak mendahuluinya.
(Tamaamul Minnah hal. 178)
Bersambung...
Belajar Sholat hal 3

Belajar Sholat hal 1

MEMBACA AL FATIHAH

Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari rukun sholat, jika dalam sholat tidak
membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya, berdasarkan perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
a)."Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah" (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama'ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).
b)."Barangsiapa yang sholat tanpa
membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya
buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna" (Hadits Shahih Al-Imam Muslim dan Abu'Awwanah).

Kapan wajib dan tidak wajib nya membaca Surat Al-Fatihah:
a). Wajib membaca Surat Al-Fatihah jika:
- Sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah.
- Sholat berjama'ah, ketika imam
membacanya secara sirr (tidak
diperdengarkan) yakni pada sholat
Dhuhur, 'Ashar, satu roka'at terakhir sholat Mahgrib dan dua roka'at terakhir sholat 'Isya. maka makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr.
b). Tidak wajib membaca Surat Al-Fatihah jika:
- Solat berjamaah dan imam membaca surat Al-Fatihah dengan keras, yaitu pada sholat Subuh, dua rakaat pertama sholat Maghrib, dua rakaat pertama sholat 'Isya. Dalil nya yaitu, "Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :"Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil
memperhatikan bacaan imam itu)…" (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no.
603 & 604. Ibnu Majah no. 846,
An-Nasa-i).
"Barangsiapa sholat mengikuti
imam (bermakmum), maka
bacaan imam telah menjadi bacaannya juga." (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh Al-
Albani). Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
sesudah mendirikan sholat yang
beliau keraskan bacaanya dalam
sholat itu, beliau bertanya:
"Apakah ada seseorang diantara
kamu yang membaca bersamaku
tadi?" Maka seorang laki-laki
menjawab, "Ya ada, wahai
Rasulullah." Kemudian beliau
berkata, "Sungguh aku katakan:
Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur-an (juga)." Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari
Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam. (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i
dan Malik. Abu Hatim Ar Razi
menshahihkannya, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).
Selain itu juga berdasarkan firman
Allah Ta'ala (yang artinya):
"Dan apabila dibacakan Al-Qur-
an hendaklah kamu dengarkan
ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat."(Al-A'raaf:204).

Jika belum hafal surat Al-Fatihah, terutama bagi yang baru masuk Islam, "Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam telah memberikan solusinya.Nasehatnya untuk orang yang belum hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam):
Ucapkanlah: "SUBHANALLAHI,
WALHAMDULILLAHI, WA LAA
ILAHA ILLALLAHU, WALLAHU
AKBAR, WALAA HAULA WALAA
QUWWATA ILLA BILLAHI"
artinya: "Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah."
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh
Al-Imam Abu Dawud, Ibnu
Khuzaimah, Hakim, Thabrani
dan Ibnu Hibban disahihkan
oleh Hakim dan disetujui oleh
Ad-Dzahabi).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: "Jika kamu hafal suatu ayat Al-
Qur-an maka bacalah ayat tersebut, jika tidak maka bacalah
Tahmid, Takbir dan Tahlil." (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, bacaShahih Abi Dawud hadits no.
807).
Bersambung ke...
Belajar Sholat hal 2

Minggu, 22 Juli 2012

Dzikir Sesudah Sholat

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang melihat tulisan ini dari kalangan kaum muslimin “Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan setelah setiap shalat fardu membaca:
1. ASTAGHFIRULLAH 3x
2. Kemudian dilanjutkan dengan:
"ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM
LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH"

"LAA ILAAHA ILLALLAHU, LAA NA'BUDU ILLA IYYAHU, LAHUN NI'MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA-UL HASAN, LAA ILAAHA ILLALLAHU, MUKHLISHIINA LAHUDDINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUN, ALLAHUMMA LAA MAA NI'A LIMAA A'THOITA, WA LAA MU'TIYA LIMAA MANA'TA, WALAA YANFA'  DZAL JADDI MINKAL JADDU".

Khusus setelah shalat (subuh dan maghrib), bacalah zikir yang dibawah ini sepuluh kali setelah mengucapkan zikir yang di atas:

"LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WAYUMIIT WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR".

3. Kemudian membaca:
- SUBHAANALLAH 33x
- ALHAMDULILLAH 33x
- ALLAHU AKBAR 33x

4. Untuk melengkapi bilangan menjadi seratus bacalah:
"LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR"

5. Kemudian membaca:
- Ayat kursi
- Al Ikhlas
- Al Falaq dan
- An Nas, kalau seandainya setelah shalat subuh dan maghrib dibaca tiga kali. Inilah yang lebih baik (afdhal) dan semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan atas keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya serta yang mengikutinya dengan baik sampai hari pembalasan.
Dikutip dari http://sholat-kita.salafyoon.net/dzikirsetelahsholat.htm.

Sabtu, 21 Juli 2012

Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan

Di negara kita ini, sudah sering sekali, dan terulang tiap tahunnya perbedaan-perbedaan dalam menentukan masuk nya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, sehingga sebagian umat islam ada yang kebingungan. Maka kejadian yang membingungkan sebagian umat Islam ini sebenarnya sudah terulang di tahun lalu dan akan terulang terulang lagi. Perbedaan ini tidak akan terjadi jika semua umat islam di negara kita mengikuti pemerintah, tapi sayang pemerintahan kita tidak memakai syariat islam dalam pemerintahannya, sehingga umat islam ada yang merasa tidak perlu patuh terhadap pemerintah. Dengan sistim khalifah maka apa yang dikatakan Pemerintah harus di ikuti, kami dengar kami ikut, maka dengan memakai syariat dan menegakkan syariat maka semua bisa disatukan. Jadi tidak usah heran kalau masalah tentang perbedaan ini tidak akan hilang selama sistim pemerintahan masih menggunakan hukum buatan manusia, bukan aturan Allah. Menyikapi perbedaan ini yaa.. kita harus terbiasa, mari kita kenali dan coba pahami satu-satu cara menentukan masuk nya ramadhan dengan metode dan dalil yang dipakai yang ada di negara kita:
1. Ru'yah hilal (melihat bulan sabit), dalil nya:
- Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).
- Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan di Shahih kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)
- Hadits dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Apabila datang bulan Ramadhan, maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain)
2. Persaksian ru'yatul hilal, yaitu apabila ada yang melihat hilal dia seorang muslim mau disumpah karena Allah, maka sudah masuk ramadhan berlaku di belahan bumi manapun, dalil nya:
- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, AdDaruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)
- Ibnu Umar radhiallahu'anhuma beliau berkata :
“Manusia sedang melihat-lihat
(munculnya) hilal. Aku beritahukan
kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Kabir 2/187).
3. Hisab, memakai kriteria hisab wujudul hilal, hisab dipakai kalangan Muhammadiyah. Mereka berdalil:
semangat Al Qur’an adalah
menggunakan hisab. Hal ini ada
dalam ayat “Matahari dan bulann
beredar menurut perhitungan” (QS
55:5). Mereka punya dalil masing-masing.
Jadi setelah kita mengetahui cara dalam menentukan awal ramadhan, tinggal dari kita pribadi hati kita yakin mengikuti yang mana, asal tau dalil nya dan paham apa yg diikuti sehingga tidak asal ikut-ikutan, tampa ilmu.

Jumat, 20 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan

Bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, bulan dimana pintu-pintu surga terbuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu, bulan penuh kasih sayang, bulan penuh ampunan.
Janganlah kita lewatkan bulan yang penuh bonus dari Allah, bulan dimana dosa-dosa digugurkan, dan pahala berlipat-lipat, pada awal ramadhan rahmat Allah terbentang, pada pertengahan ramadhan bulan penuh ampunan, dan akhir ramadhan pembebasan dari api neraka. Sungguh sangat disayangkan jikalau kita lalai dan melewati bulan ini dengan sia-sia. Waktu yang pendek bagi kita untuk menebus dosa-dosa kita, pada bulan inilah diberikan kesempatan itu, ibadah sunah mendapatkan pahala seperti ibadah wajib, ibadah wajib mendapatkan pahala berlipat-lipat dari bulan biasa yaitu 70kali lipat, pada bulan ramadhan ini juga ada malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul qodar.
Keutamaan malam lailatul qadar diantaranya:
1. Malam yang istimewa, malam penuh berkah, malaikat turun kebumi membawa berkah."Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5).
2. Amalan di malam lailatul qadar lebih baik dari amalan di seribu bulan. Maksud nya nilai nya amalan itu lebih baik dari seribu bulan kita melakukan amalan.

Kapan malam laillatul qadar terjadi:
1. Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :“Carilah lailatul
qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”(HR.Bukhari no. 2020 dan Muslim no.1169)
2. Terjadinya dimalam-malam ganjil, sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :“Carilah lailatul
qadar di malam ganjil dari sepuluh
malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.2017).

Ciri-ciri atau tanda-tanda malam lailatul qadar:
1. Malam itu terasa tenang dan damai, Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”
Sungguh lezat apa yang dihidangkan oleh Allah pada bulan ramadhan, semoga Allah selalu mempertemukan kita dengan bulan ramadhan aamiin.